Di tengah riuh rendah kehidupan, di sebuah sudut permukiman yang semarak, seringkali ada kerinduan akan sebuah tempat. Bukan sekadar tempat bernaung dari hujan dan panas, tetapi tempat untuk meneduhkan jiwa, merendahkan hati, dan menyuarakan puji-pujian kepada Sang Pencipta. Kerinduan itulah yang kemudian menjadi benih pertama dari lahirnya Masjid Sabilul Muttaqin.
Awalnya, hanya sebuah ide yang mengemuka dalam pertemuan kecil warga. Sebuah gagasan yang disambut dengan mata yang berbinar dan hati yang penuh harap. "Alangkah indahnya jika kita memiliki masjid sendiri, tempat kita bisa beribadah dan berkumpul dalam balutan ukhuwah," begitu kira-kira bisikan yang menggema di hati banyak orang. Nama "Sabilul Muttaqin" pun dipilih, yang berarti "Jalannya Orang-Orang yang Bertakwa", sebuah cita-cita luhur yang ingin diwujudkan dalam setiap batu bata yang akan disusun.

Proses pembangunannya adalah sebuah cerita epik tentang gotong royong dan keikhlasan. Tanah wakaf dari salah satu ahli waris menjadi pondasi fisik sekaligus simbol ketulusan. Arsitek dan perencana dari kalangan warga sendiri rela menyumbangkan tenaga dan pikirannya tanpa pamrih, merancang kubah yang menjulang dan menara yang kokoh, bukan untuk kemegahan belaka, tetapi sebagai simbol ketundukan.
Kemudian, datanglah hari yang bersejarah. Peletakan batu pertama dilakukan disertai doa-doa yang khusyuk yang dipanjatkan oleh para sesepuh dan seluruh jamaah. Suara takbir menggema, mengukir semangat di langit biru, menandai dimulainya sebuah perjalanan suci.
Bukan tanpa halangan. Terkadang hujan menggenangi lokasi, memperlambat pengerjaan. Terkadang dana yang terkumpul harus menunggu kesedekan berikutnya. Namun, seperti sungai yang terus mengalir menemui laut, sumbangan mengalir dari segenap penjuru. Ada yang menyumbangkan uang dari tabungannya, ada yang menyumbangkan material, ada pula yang datang setiap akhir pekan untuk menyumbangkan tenaga, menyekop pasir, mencampur semen, atau sekadar menyediakan minum dan makanan untuk para pekerja. Setiap keringat yang menetes adalah sedekah, setiap tenaga yang dikeluarkan adalah ibadah.

Bulan berganti bulan, kerangka besi mulai berdiri, dinding-dinding pun tertata rapi. Kaca-kaca jendela berhiaskan kaligrafi dipasang, memantulkan cahaya matahari yang berkilauan. Karpet merah yang lembar dibentangkan, menyiapkan hamparan untuk sujud-sujud yang khusyuk. Mimbar untuk khatib dan sound system untuk mengumandangkan adzan dipasang dengan hati-hati.
Akhirnya, setelah berbulan-bulan diperjuangkan dengan penuh kesabaran dan doa, datanglah hari yang dinanti. Hari peresmian Masjid Sabilul Muttaqin. Ribuan orang memadati halaman dan ruang salat yang masih beraroma kayu dan semen baru. Suara takbir, tahlil, dan tahmid bergemuruh, mengharu biru. Air mata kebahagiaan tak terelakkan, mengalir di pipi mereka yang telah merasakan perjuangan dari awal.
Kini, Masjid Sabilul Muttaqin bukan lagi sekadar bangunan. Ia adalah jantungnya komunitas. Setiap hari, dari subuh hingga isya, adzan berkumandang menyeru umat untuk menunaikan shalat. Anak-anak belajar mengaji di ruang bawahnya, remaja berkumpul untuk kajian, dan para orang tua duduk bersila berdzikir bersama. Ia telah menjadi "Sabil", jalan yang menyatukan langkah, dan "Muttaqin", wadah untuk menyucikan diri.
Pembangunannya mungkin telah usai secara fisik, tetapi hakikatnya, pembangunan Masjid Sabilul Muttaqin tidak akan pernah berhenti. Ia akan terus dibangun dengan setiap shalat jamaah yang khusyuk, dengan setiap ilmu yang disebarkan, dan dengan setiap persaudaraan yang diperkuat di dalamnya. Ia adalah monumen abadi dari kekuatan iman, persatuan, dan keikhlasan sebuah komunitas yang ingin menjadikan bumi ini lebih dekat kepada Tuhannya.